Sunday, May 20, 2012
Login

Category: Umum

Forum Lembaga Legislasi Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Mengadakan Kongres di Mataram

Rabu, 02 November 2011,

Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) yang terdiri atas persatuan mahasiswa yang bergerak di bidang legislatif seluruh Indonesia, telah berhasil  menyelenggarakan acara pemilihan koordinator pusat yang setahun ke depannya akan mengemban sebagai koordinator pusat lembaga legislatif se Indonesia. Acara ini  dilangsungkan di Mataram dengan tuan rumah yang berasal dari Dewan Mahasiswa Universitas Negeri Mataram menyelenggarakan rangkaian acara berupa Stadium General dan Kongres Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) dengan tema “Optimalisasi Lembaga Legislatif Mahasiswa melalui cara “Laksanakan Sumpah Pemuda Dengan Kontribusi Nyata Pada Bangsa”. Kongres yang berlangsung dari tanggal 27-30 Oktober dihadiri oleh 52 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.Kongres yang berlangsung di Mataram  Wadah Lembaga Legislatif Mahasiswa di Indonesia yang mengemban amanat untuk mewujudkan terciptanya integritas Mahasiswa Indonesia, bukan hanya demi anggotanya tetapi juga untuk bangsa.


Undangan Terbuka Temu Akbar Alumni FL2MI 2007-2010 di Jogja

Hal: Undangan Terbuka Kepada Seluruh Alumni FL2MI 2007-2010

Mengundang seluruh Alumni FL2MI angkatan 2007-2010 dalam acara “TEMU AKBAR ALUMNI FL2MI 2010″ di Yogyakarta pada Senin 15 Maret-Selasa 16 Maret 2010. Acara akan dilaksanakan di Wisma PU di Jalan Laksda Adisucipto No.165 Telp(0274) 589494, Fax.546978.

Biaya per orang : Rp.75.000 (dialokasikan untuk biaya penginapan selama 2 hari), sedangkan biaya makan dll akan ditanggung bersama dengan patungan/urunan (red:mengumpulkan uang bersama). Sehingga setiap agenda pun akan disesuaikan dengan kesepakatan bersama dengan pertimbangan kondisi keuangan seluruh kawan-kawan yang hadir, karena acara ini bersifat swadaya, swasembada dan swakarya.

Susunan Acara dan Transportasi menuju lokasi acara dapat didownload melalui e-mail ini.

Tujuan TEMU AKBAR ALUMNI FL2MI

1. Menjalin tali silaturahim kembali antar Alumni

2. Share informasi paska kampus tentang info lowongan kerja, link pekerjaan, beasiswa dan dunia kerja

3. Share pengalaman paska kampus

Penggagas:

Muhammad Wiman Wibisana, S.H (Alumni FL2MI 2007)- Ketua DPM Udayana periode 2007-2009

Ratna Istianah, S.Si (Alumni FL2MI 2007)- Ketua DPM Universitas Muhammadiyah Sukabumi periode 2007-2009

Yuli Tri Rahayu, S.Pd (Alumni FL2MI 2007)- Ketua Komisi II-Eksternal DPM ReMa UNY periode 2007-2008

DOWNLOAD

LOKASI

SUSUNAN ACARA


Undangan Konggres Luar biasa FL2MI Surakarta

Nomor : 40 /DAM /2010                                                                                 Surakarta, 12 Februari 2010
Lamp : 1 Bendel Proposal
Hal : Permohonan Delegasi

Kepada Yang Kami Hormati,
Ketua DPM/BPM/REMA/DEMA/Senat Mahasiswa ________________
Di TEMPAT

Dengan hormat,
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, yang jiwa dan raga kita berada di dalam genggaman-Nya. Segala puji syukur kita haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Seminar Nasional dan Konggres Luar Biasa Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Nasional yang insya Allah Kegiatan tersebut akan kami laksanakan besok pada :

Hari : Sabtu-Minggu, 27 Februari – 1 Maret 2010
Waktu : 09.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Sebagaimana Terlampir dalam Proposal

Maka dengan itu kami selaku panitia pelaksana “Seminar Nasional dan Konggres Luar Biasa Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Nasional” mengajukan permohonan delegasi dalam rangka mensukseskan acara tersebut diatas. Adapun bentuk kegiatan dan pembiayaan sebagaimana terlampir dalam proposal kegiatan atau dapat di download disini:

Link 1
Link 2
Link 3
Link 4

Demikian surat permohonan ini kami sampaiakan, Atas perhatian dan kebijaksanaan yang diberikan kami ucapkan banyak terima kasih.

Surakarta, 12 Februari 2010
ttd

Panitia KLB FL2MI


Udayana is Solution

Saudaraku sekalian..
Saya sebagai wakil muda dari Udayana, sejak sebelum kongres ke III diselenggarakan, merasa prihatin dan cemas pada kondisi konstitusi FL2MI.

1. Ada kelemahan penggunaan AD/ART, yang merupakan teluran pada kongres I di Aceh, pada konstitusi FL2MI. (Entah apa yang terjadi di aceh sampai -sampai AD/ART muncul sebagai konstitusi FL2MI. Mungkin, ada yang bisa jelaskan sejarah munculnya AD/ART pada konstitusi FL2MI?).

2. Akibat kelemahannya itu, secara operasional, FL2MI tak bekerja dengan baik, jadi sifatnya kordinator sentris. Entah itu KORPUS, KORWIL, ataupun KORDA. Sehingga jika memang kordinator-kordinator ini cukup amanah, maka FL2MI semestinya ada dalam kondisi yang lebih baik dari hari ini.

3. Kami yakin, alumni Udayana pada kongres I di Aceh telah berbuat yang terbaik bagi FL2MI. Karenanya sampai hari ini, bahkan sampai nantipun, sikap Udayana terhadap FL2MI konsisten, karena kami sudah meratifikasi AD/ART FL2MI dalam Peraturan Permeintahan Mahasiswa (di beberapa PT disebut Undang-Undang)

4. Pada kongres III lalu, Udayana mengajukan solusi, (1) Penggunaan AD/ART kembali, (2) Penggunaan Piagam FL2MI yang tidak sempat kami publikasikan pada kongres III lalu, namun sempat kami copy-kan softcopy-nya pada panitia UNS.
Berikut kami upload softcopy-nya.
Download

5. Sejuta sahabat kurang, satu musuh kebanyakan.


DARI UDAYANA UNTUK INDONESIA.
M. Hizba Afdhaluddin.


Kampus Korupsi

Berikut tulisan sederhana yang mencoba melihat sisi lain kampus, semoga mampu menjadi bahan diskusi bersama. Ini merupakan masalaha yang umum yang ada di setiap kampus. Sebuah pemikiran kecil yang berusaha menatap sistem pendidikan kita hari ini terutama jenjang perguruan tinggi.

Kampus Korupsi

Kampus merupakan tempat dialetika idealisme tak berhenti untuk berproses. Di tempat ini semua bentuk ideal coba diformulasi dan kemudian dijewatahkan dalam model-model. Melalui sebuah model, tempat para intelektual ini mencoba memberikan solusi pada realita kehidupan. Banyak hal yang telah dikontribusikan oleh kampus kepada masyarakat. Teknologi, paket solusi masalah dan karya ilmiah hanyalah segelintir kecil dari begitu besar manfaat dari kampus.

Tempat ini begitu agung, sampai siapa pun akan menghormatinya. Yang ada dan menjadi bagiannya mendapat posisi yang terhormat dalam masyarakat. Mulai dari rektor, dosen, mahasiswa hingga tukang sapunya sekalipun mendapat posisi yang lebih tinggi dalam masyarakat. Mahasiswa selalu diberikan tempat yang terhormat dalam dunia diskusi, politik, sosial dan budaya karena dianggap agen perubahan dan iron stock masyarakat. Para dosen merupakan tokoh sentral dalam pembentuk intelektual- intelektual baru, karya-karyanya merupakan solusi permasalahan dalam masyarakat dan pengabdiaan adalah perjuangannya menciptakaan tatanan masyarakat ideal. Begitu pula tukang sapu merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan, ia merupakan elemen pendukung dalam membentuk intelektual yang sehat dan bersih. Tanpa seorang tukang sapu tidak ada yang menjamin kader-kader muda bangsa mampu belajar dengan keadaan yang baik.

Dalam dunia yang serba ideal ini, elemennya yang ada di dalamnya dituntut menjadi sesuatu yang sempurna. Namun mimpi kesempurnaan itu sepertinya jauh dari harapan. Terkadang kesempurnaan yang ada merupakan kebobrokan yang dihias sedemiaan rupa menjadi indah.

Kampus selalu mendorong penegakan hukum, mencoba memberikan solusi atas korupsi yang tumbuh di masyarakat, sumber dari kritik kepada pemerintah dan menuntut transparasi dalam kehidupan berbangsa bernegara. Tetapi jika dilihat dari sudut pandang lain, kampus merupakan hulu dan muara tuntutan itu. Di tempat yang terhormat ini dibuat model untuk diberikan kepada masyarakat. Namun seandainya dapat jujur, model-model itu semestinya diterapkan lebih dulu di kampus.

Bicara saja soal korupsi, kampus merupakan tempat para koruptor itu belajar dan berbagi ilmu. Para dosen merupakan salah satunya. Mereka adalah koruptor waktu dan gaji. Para pendidik banyak mengorupsi kewajiban mengajar dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan penelitian, seminar, tugas belajar, keluar kota, perjalanan dinas, masalah anak sampai kepentingan keluarga menjadi alasan untuk mengorupsi kewajiban mengajar. Semua alasan begitu mudah dilontarkan untuk meninggalkan mahasiswa. Hal ini takkan terjadi seandainya kampus memberikan penghidupan dan fasilitas layak bagi mereka. Banyak mahasiswa yang dirugikan haknya karena ketidakhadiran mereka. Mahasiswa hanya bisa menerima tanpa bisa berkata tidak pada dosen. Lalu kepada siapa mereka harus menuntut keadilan?

Mahasiswa yang selalu digadang-gadang sebagai agen perubahan juga belajar menjadi koruptor di tempat ini. Proposal dan kegiatan adalah alatnya. Mahasiswa belajar mark up nilai proposal. Semua dilakukan karena himpitan dana kemahasiswaan yang kecil. Selain itu dana yang tak kunjung cair dan tidak transparan juga menjadi faktor. Berkilah ini strategi agar kegiatan tetap jalan, tetapi sistem pendidikan secara tidak langsung mengajarkan menjadi koruptor Para intelektual muda ini diperas otaknya untuk mendapatkan dana sebanyak-banyaknya. Lantas apa bedanya mahasiswa tukang mark up proposal dengan broker dan makelar proyek?

Birokrasi kampus juga semestinya menjadi tempat yang harus dibenahi sebelum sebuah model birokrasi yang baik ditawarkan ke publik. Pungutan legalisir, malasnya birokrasi, ketidakpatuhan pegawai merupakan sedikit dari berbagai hal yang harus dibenahi. Pungutan-pungutan liar yang ada dikampus mengajarkan mahasiswa bahwa pungutan liar yang ada di luar merupakan hal yang biasa. Birokrasi kampus saja mengajarkan sosok idealis menjadi seorang koruptor. Jika mahasiswa sering berteriak birokrasi pemerintah busuk, lalu bagaimana menyebut birokrasi kampus?

Kebobrokan tempat ini melebihi realitasnya karena dari sini semua model terbaik ditawarkan. Mungkin hancurnya bangsa ini karena korupsi disebabkan kampus menawarkan model korupsi juga.

Dosen, mahasiswa, birokrasi kampus tidak akan menjadi koruptor seandainya memiliki mananjemen dan kepemimpinan yang baik. Rendahnya akreditasi menjadi tolok ukur sederhana dari buruknya kepemimpinan. Jika universitas memberikan jaminan dan ruang yang lebih bagi dosen tentunya mereka memenuhi kewajibannya juga. . Mahasiswa pun tak akan menjadi broker proposal jika pengambil kebijakan memberikan posisi setara dan wadah ekspresi yang cukup. Indikator ini dapat dideskripsikan lewat banyak hal tetapi satu kata yang dapat mewakili semua, bahwa sang pemimpin telah gagal. Pemimpin membuat kebijakan yang salah sehingga melahirkan para koruptor-koruptor di lingkungannya.

Civitas akademika tidak melakukan korupsi uang, namun tindakan-tindakanny a seperi merupakan esensi korupsi itu sendiri. Pendidikan menjadi media pembelajaran korupsi sistemik.

Ini merupakan hal yang menyakitkan yang perlu disadari oleh lingkungan ideal ini. Benahi dulu kampus sebelum memberikan tawaran ideal pada realitas. Ini semestinya membangun kesadaran untuk kita bukan malah dibalas dengan tindakan represif. Berani kritik pemerintah tetapi jangan takut untuk menerima otokritik.


 
xpo avto aviat